Jurnal Kesehatan Tambusai
Renal safety and kidney function changes associated with SGLT2 inhibitors in patients with hfpef/hfmref and CKD : A systematic review
By I Wayan Putra Kesumantara Wiguna, Pande Komang Inten Widya Iswari Oka, I Putu Reza Wedangga and 1 others.
Abstract
Heart failure with preserved or mildly reduced ejection fraction (HFpEF/HFmrEF) sering disertai chronic kidney disease (CKD), sehingga meningkatkan risiko gangguan kardiorenal. SGLT2 inhibitors terbukti memperbaiki luaran gagal jantung, tetapi penurunan awal estimated glomerular filtration rate (eGFR) dapat menimbulkan kekhawatiran terhadap keamanan ginjal. Systematic review ini bertujuan mengevaluasi keamanan renal dan perubahan fungsi ginjal pada pasien dewasa dengan HFpEF/HFmrEF, terutama pada pasien dengan CKD. Pencarian literatur dilakukan melalui PubMed, Google Scholar, Wiley Online Library, ScienceDirect, dan Cochrane CENTRAL selama April-Juli 2026. Bukti utama berasal dari analisis renal EMPEROR-Preserved dan DELIVER. Hasil menunjukkan bahwa SGLT2 inhibitors dapat menyebabkan initial eGFR dip ringan setelah terapi dimulai, tetapi perubahan tersebut tidak menunjukkan pola kerusakan ginjal progresif. Pada EMPEROR-Preserved, perlambatan penurunan eGFR konsisten pada pasien dengan dan tanpa CKD, sedangkan hard kidney composite outcome tidak menunjukkan perbedaan bermakna berdasarkan definisi renal yang digunakan dalam trial. Pada DELIVER, dapagliflozin memperlambat penurunan eGFR jangka panjang meskipun composite kidney outcome tidak berbeda bermakna. Secara keseluruhan, SGLT2 inhibitors menunjukkan profil renal yang dapat diterima pada HFpEF/HFmrEF. Penurunan eGFR awal yang ringan tidak seharusnya menjadi alasan tunggal untuk menghentikan terapi, tetapi fungsi ginjal dan status volume tetap perlu dipantau secara klinis.






