Jurnal Kesehatan Tambusai
Analisis implementasi strategi penemuan kasus tuberkulosis ditinjau dari pendekatan sistem input, proses, dan output di puskesmas un kota tual
By Andi Asliana Sainal, Elyanovianti Elyanovianti and M. Saiful Rahman Ohoitenan.
Abstract
Tuberkulosis (TB) tetap menjadi tantangan kesehatan masyarakat global yang krusial, terutama di kawasan wilayah kepulauan yang menghadapi keterbatasan kondisi geografis dan tingginya tingkat mobilitas penduduk. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif pelaksanaan penemuan penderita Tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas Un Kota Tual berdasarkan kerangka evaluasi sistem yang mencakup aspek input, proses, dan output. Pendekatan kuantitatif deskriptif dengan desain potong silang (cross-sectional) diterapkan dalam studi ini. Populasi dan sampel penelitian meliputi 30 orang responden yang terdiri dari Kepala Puskesmas, Pengelola Program TB, Petugas Laboratorium, serta 27 Kader Kesehatan yang dipilih melalui teknik sampel jenuh (total sampling). Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur berskala Likert, lembar observasi fasilitas, serta kajian dokumen rekapitulasi Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB). Analisis data dijalankan secara deskriptif kuantitatif. Hasil evaluasi dimensi input tergolong dalam kategori tidak memadai; walaupun ketersediaan fasilitas laboratorium dan petunjuk teknis/SOP tergolong baik, kendala mendasar timbul akibat minimnya dana operasional penjangkauan lapangan serta rangkap tugas tenaga kesehatan. Pada dimensi proses, kinerja keseluruhan tergolong kurang optimal (70,0%), di mana kegiatan penjaringan pasif berjalan sangat baik (skrining poli 87,5% dan pencatatan SITB 91,6%), tetapi penjaringan aktif di lapangan masih terhambat (investigasi kontak 54,1% dan penyuluhan berkala 56,6%). Dari dimensi output, pencapaian Case Detection Rate (CDR) yang hanya 26,5% belum berhasil memenuhi standar acuan nasional (≥90%). Dapat disimpulkan bahwa ketimpangan penyediaan input serta belum maksimalnya penjaringan aktif berdampak langsung pada rendahnya deteksi penderita TB.




