Jurnal Kesehatan Tambusai
Efektivitas terapi ultrasound dan transcutaneous electrical nerve stimulation (tens) dalam tatalaksana rehabilitasi plantar fasciitis
By Lily Dian Agung Enggarwati.
Abstract
Plantar fasciitis merupakan penyebab tersering nyeri tumit yang timbul akibat mikrorobekan berulang dan perubahan degeneratif kronis pada fascia plantaris, dengan keluhan yang paling terasa saat langkah pertama di pagi hari. Modalitas fisioterapi seperti terapi ultrasound dan transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS) banyak digunakan dalam praktik klinis karena sifatnya yang non-invasif, mudah diaplikasikan, dan minim efek samping, namun efektivitas kombinasi keduanya pada tataran klinis nyata masih perlu digambarkan secara mendalam. Artikel ini bertujuan menggambarkan efektivitas kombinasi terapi ultrasound dan TENS dalam tatalaksana rehabilitasi pasien plantar fasciitis. Penelitian menggunakan desain studi kasus deskriptif kualitatif pada satu pasien dewasa dengan diagnosis klinis plantar fasciitis unilateral. Intervensi diberikan sebanyak delapan kali kunjungan selama empat minggu, terdiri dari terapi ultrasound kontinu pada area kalkaneus dan sepanjang fascia plantaris, dilanjutkan aplikasi TENS konvensional pada area yang sama, serta dilengkapi edukasi peregangan mandiri. Evaluasi dilakukan menggunakan Visual Analogue Scale (VAS) dan Foot Function Index (FFI) sebelum dan sesudah intervensi, kemudian dianalisis secara deskriptif naratif dengan mengaitkan temuan klinis pada tinjauan pustaka terkini. Hasil menunjukkan penurunan skor nyeri VAS dari kategori nyeri berat menjadi nyeri ringan secara progresif sejak sesi ketiga, disertai perbaikan skor FFI dan peningkatan toleransi berdiri serta berjalan pasien. Nyeri pijakan pertama di pagi hari juga berkurang secara bermakna. Simpulan menunjukkan bahwa kombinasi terapi ultrasound dan TENS efektif menurunkan nyeri dan memperbaiki fungsi pada pasien dengan plantar fasciitis sehingga dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari protokol rehabilitasi fisioterapi konservatif yang terstruktur, dengan tetap memperhatikan keterbatasan desain studi kasus tunggal.







