Jurnal Kesehatan Tambusai
Tinea incognito pada psoriasis : Tantangan diagnosis dan peran diabetes melitus
By Eifel Coray Carolyn Ruth Pardede.
Abstract
Tinea dan psoriasis memiliki etiologi berbeda, tetapi keduanya dapat menampilkan plak eritematosa berskuama yang saling menyerupai sehingga berisiko menimbulkan kesalahan diagnosis dan terapi. Tinjauan naratif ini bertujuan menganalisis tumpang tindih klinis tinea–psoriasis, pendekatan diagnostik, pengaruh terapi psoriasis terhadap infeksi jamur, serta peran diabetes melitus sebagai komorbid. Literatur yang disintesis mencakup 101 artikel terbitan 2021–2026 berupa laporan kasus, studi observasional, tinjauan sistematis, meta-analisis, dan panduan klinis. Hasil telaah menunjukkan bahwa penggunaan kortikosteroid atau imunomodulator tanpa konfirmasi mikologi dapat mengubah dermatofitosis menjadi tinea incognito sehingga gambaran khas infeksi jamur menjadi kurang jelas dan semakin menyerupai psoriasis. Pada pasien psoriasis, penghambatan jalur IL-17 juga dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi jamur superfisial pada sebagian pasien. Diagnosis perlu dilakukan secara bertahap melalui penilaian morfologi lesi, distribusi, riwayat terapi, dan komorbid, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan KOH, kultur, dermoskopi, histopatologi, atau metode molekuler sesuai indikasi. Diabetes melitus perlu diperhatikan karena kontrol glikemik yang buruk dapat meningkatkan kerentanan jaringan dan komplikasi kulit. Secara keseluruhan, tumpang tindih tinea–psoriasis membutuhkan kewaspadaan klinis, konfirmasi mikologi sebelum eskalasi steroid atau imunosupresi, terapi antijamur pada infeksi yang terbukti, serta evaluasi komorbid agar infeksi tidak memburuk dan psoriasis tetap tertangani secara optimal. Keywords: dermatophytosis, diabetes mellitus, onychomycosis, psoriasis, tinea incognito






