Jurnal Kesehatan Tambusai
Studi penggunaan obat analgesik pada pasien rawat inap dengan fraktur di rs bhayangkara surabaya
By Dewi Fatmahsari, Novamei Indriani and Asri Wido Mukti.
Abstract
Fraktur merupakan salah satu kondisi yang menyebabkan nyeri akut sehingga memerlukan penggunaan analgesik yang tepat untuk mencapai efektivitas terapi dan meminimalkan Drug Related Problems (DRPs). Penggunaan analgesik yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko interaksi obat dan reaksi obat yang merugikan sehingga evaluasi penggunaannya diperlukan untuk mendukung keamanan terapi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola penggunaan analgesik serta mengidentifikasi DRPs pada pasien rawat inap dengan fraktur di RS Bhayangkara Surabaya. Penelitian ini merupakan penelitian observasional non-eksperimental dengan desain cross-sectional dan pendekatan retrospektif menggunakan data rekam medis pasien periode Januari-Desember 2025. Sebanyak 75 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis secara deskriptif berdasarkan karakteristik pasien, penggunaan analgesik, dan kategori DRPs. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketorolac merupakan analgesik yang paling banyak digunakan, yaitu pada 65 pasien (38%), dengan penggunaan yang secara umum sesuai berdasarkan evaluasi terapi. Dari delapan kategori DRPs yang dievaluasi, ditemukan dua kategori, yaitu reaksi obat yang merugikan pada 3 pasien (4%) berupa mual dan muntah serta interaksi obat pada 36 pasien. Interaksi yang paling sering ditemukan adalah kombinasi ketorolac dan ranitidin pada 35 pasien (46,67%), sedangkan kombinasi ketorolac dan dexamethasone ditemukan pada 1 pasien (1,3%). Secara keseluruhan, penggunaan analgesik pada pasien fraktur telah menunjukkan kesesuaian dalam aspek indikasi, pemilihan obat, dan dosis. Namun, pemantauan terhadap potensi interaksi obat dan reaksi obat tetap diperlukan untuk meningkatkan keamanan dan rasionalitas terapi.



