Malang Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery Journal
Gambaran Derajat Hipertrofi Adenoid dan Obstruksi Nasofaring Berdasarkan Foto Lateral Soft Tissue pada Pasien dengan Klinis Hipertrofi Adenoid di RSUD dr Saiful Anwar Malang
By Mohammad Iqbal Syarifuddin, Arifiah Nuril Firdausi and Farah Nurdiana.
Abstract
Latar belakang: Hipertrofi adenoid merupakan salah satu penyebab tersering obstruksi jalan napas atas pada populasi pediatrik dan dapat menimbulkan berbagai komplikasi, termasuk gangguan tidur, otitis media berulang, serta gangguan tumbuh kembang. Radiografi lateral soft tissue merupakan pemeriksaan penunjang yang luas digunakan untuk menilai ukuran adenoid dan derajat obstruksi nasofaring, terutama ketika nasofaringoskopi sulit dilakukan pada anak. Tujuan: Mengetahui gambaran derajat hipertrofi adenoid dan derajat obstruksi nasofaring berdasarkan pemeriksaan foto AP/lateral soft tissue serta kesesuaiannya dengan diagnosis klinis pada pasien dengan kecurigaan hipertrofi adenoid di RSUD dr. Saiful Anwar Malang. Metode: Penelitian deskriptif menggunakan data sekunder rekam medis pasien yang menjalani pemeriksaan radiologi selama Januari–Desember 2025. Variabel yang dinilai meliputi usia, jenis kelamin, diagnosis klinis, derajat hipertrofi adenoid, dan derajat obstruksi nasofaring menggunakan metode Cohen/CONAC. Hasil: Sebanyak 39 pasien memenuhi kriteria penelitian. Mayoritas pasien berasal dari kelompok usia anak-anak <10 tahun (79,5%) dan berjenis kelamin laki-laki (56,4%). Pada pemeriksaan radiologi, hipertrofi adenoid ditemukan pada 3 pasien dengan diagnosis klinis hipertrofi adenoid, 17 pasien dengan tonsilitis, 12 pasien dengan hipertrofi adenoid dan tonsilitis, serta 4 pasien dengan diagnosis lain. Obstruksi nasofaring ditemukan pada sebagian pasien, termasuk 9 dari 17 pasien tonsilitis dan 7 dari 12 pasien dengan hipertrofi adenoid disertai tonsilitis. Ditemukan pula ketidaksesuaian antara temuan klinis dan radiologis pada sebagian kasus. Kesimpulan: Pemeriksaan radiografi lateral soft tissue menunjukkan kontribusi penting dalam menilai hipertrofi adenoid dan obstruksi nasofaring, namun terdapat variasi antara temuan klinis dan radiologis. Radiografi berperan sebagai metode skrining, tetapi evaluasi klinis komprehensif tetap diperlukan, termasuk potensi pemeriksaan endoskopi pada kasus dengan gejala obstruksi persisten.










