Jurnal Kesehatan Tambusai
Hubungan kebiasaan merokok dan bblr dengan kejadian stunting pada anak balita usia (7-57) bulan di puskesmas fajar mulia kabupaten pringsewu provinsi lampung
By Elsa Destiana, Beniqna Maharani Besmaya, Ani Kristianingsih and 2 others.
Abstract
Stunting merupakan kondisi kekurangan gizi kronis yang terjadi akibat asupan nutrisi yang tidak tercukupi dalam jangka waktu lama. Prevalensi stunting balita di Indonesia tahun 2024 mencapai 19,8%, Lampung menunjukkan angka prevalensi 15,9%, sementara untuk Pringsewu menunjukan angka prevalensi 4,4%. Kejadian stunting yang disebabkan Riwayat Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), riwayat infeksi orangtua, kebiasaan merokok ayah, kebiasaan merokok, serta paparan asap rokok mengandung nikotin dan zat berbahaya lainnya dapat mengganggu penyerapan nutrisi, sehingga menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak. Stunting tidak hanya berdampak pada tinggi badan yang lebih rendah dari standar usia, tetapi juga dapat menurunkan kualitas hidup di masa depan seperti perkembangan kognitif yang kurang optimal, daya tahan tubuh yang rendah, dan produktivitas yang menurun. Upaya penanganan masalah stunting meliputi penerapan standar gizi seimbang dan menerapkan gaya hidup sehat, termasuk praktik pemberian makan yang tepat dan menjaga kebersihan lingkungan untuk menurunkan risiko infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kebiasaan merokok dan BBLR dengan kejadian stunting pada balita di Puskesmas Fajar Mulia Kabupaten Pringsewu. Jenis penelitian ini adalah analisis observasi dengan desain case control. Populasi penelitian adalah seluruh ibu yang memiliki anak usia 7–57 bulan sebanyak 1.195 orang, dengan jumlah sampel 142 responden menggunakan teknik sampling random sampling dengan teknik undian (lottery technique), instrumen penelitian berupa lembar checklist. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Fajar Mulia Kabupaten Pringsewu pada bulan Desember 2025. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara kebiasaan merokok ayah dengan kejadian stunting (p-value 0,001; p<0,05), sedangkan riwayat BBLR tidak berhubungan (p-value 0,731; p>0,05).





