Jurnal Kesehatan Tambusai
Spektrum radiologis tuberkulosis paru : Tinjauan sistematis cxr, hrct, dan AI
By Perthyan Aulia Nasution, Ulina Cecylia Hutauruk, Sonya Maranata Situmorang and 3 others.
Abstract
Tuberkulosis paru masih menjadi penyebab utama kesakitan dan kematian akibat penyakit infeksi. Keterlambatan konfirmasi mikrobiologis serta ketimpangan fasilitas diagnostik dapat menghambat penemuan kasus sehingga diperlukan evaluasi komprehensif terhadap peran pencitraan radiologis. Penelitian ini bertujuan menyintesis temuan radiologis tuberkulosis paru, membandingkan kinerja modalitas pencitraan, dan mengidentifikasi pola radiologis pada kelompok klinis khusus. Tinjauan literatur sistematis dilakukan berdasarkan pedoman PRISMA 2020 melalui penelusuran PubMed/MEDLINE, Google Scholar, Scopus, EMBASE, dan WHO Global Health Library terhadap publikasi Januari 2016–Desember 2024. Kualitas studi dinilai menggunakan QUADAS-2 dan Newcastle-Ottawa Scale, kemudian data disintesis secara naratif. Sebanyak 38 studi yang melibatkan 16.240 pasien memenuhi kriteria. Foto toraks menunjukkan infiltrat lobus atas (78,4%), opasitas nodular (62,1%), dan kavitas (45,2%), dengan sensitivitas 80,2% dan spesifisitas 68,5%. High-resolution computed tomography memperlihatkan pola tree-in-bud (89,3%), nodul sentrilobular (82,1%), konsolidasi (76,8%), serta limfadenopati (71,5%), dengan sensitivitas 81–94% dan spesifisitas 79–93%. Pada koinfeksi TB-HIV, limfadenopati dan pola milier lebih sering ditemukan, sedangkan MDR-TB berkaitan dengan kavitas multipel berdinding tebal dan keterlibatan bilateral. Interpretasi foto toraks berbantuan kecerdasan buatan menunjukkan potensi diagnostik yang menjanjikan, meskipun validasi klinis masih bervariasi. Foto toraks tetap relevan sebagai pemeriksaan lini pertama, sedangkan HRCT berperan sebagai modalitas komplementer pada kasus atipikal atau kompleks. Seluruh temuan pencitraan tetap memerlukan korelasi klinis dan konfirmasi mikrobiologis.





