Jurnal Kesehatan Tambusai
Tinea favosa pada anak : Manifestasi klinis khas, tantangan diagnosis dan pentingnya tata laksana dini
By Rudyn Raymond Panjaitan, Niki Riski Pasaribu, Daniel Manurung and 3 others.
Abstract
Tinea favosa atau favus merupakan bentuk dermatofitosis kronis dan destruktif pada kulit kepala. Penyakit ini secara khas ditandai oleh pembentukan scutula, yaitu krusta kuning berbentuk cekung di sekitar folikel rambut. Kondisi ini sering menimbulkan tantangan diagnosis karena manifestasinya dapat menyerupai kelainan inflamasi lainnya, seperti kerion atau dermatitis seboroik. Apabila tidak ditangani secara adekuat, infeksi ini dapat menyebabkan kerusakan folikel permanen berupa alopesia sikatrikalis. Laporan kasus ini bertujuan memaparkan manifestasi klinis, tantangan diagnostik, serta tata laksana tinea favosa pada pasien anak. Laporan kasus deskriptif ini disusun berdasarkan observasi klinis di Stase Kulit dan Kelamin RSUD Drs. H. Amri Tambunan, yang dilengkapi dengan telaah pustaka komprehensif. Seorang anak laki-laki berusia 7 tahun datang dengan keluhan pruritus regio kapitis dan alopesia bercak sejak tiga minggu. Terdapat riwayat bermain di lapangan berpasir dan kontak hewan peliharaan. Pemeriksaan dermatologis menunjukkan makula eritematosa, papul, pustul, skuama kasar, dan gambaran khas scutula berwarna kuning keemasan yang mengelilingi batang rambut, disertai bau tidak sedap. Pemeriksaan mikologis KOH menunjukkan keberadaan hifa dan spora jamur. Diagnosis kerja ditegakkan sebagai tinea capitis tipe favosa. Pasien ditatalaksana secara komprehensif menggunakan griseofulvin sistemik selama 6–8 minggu, sampo ketokonazol 2%, serta edukasi higiene personal. Pengenalan dini terhadap karakteristik khas scutula sangat penting dalam ketepatan diagnosis tinea favosa. Tata laksana antijamur sistemik yang adekuat sedini mungkin diperlukan guna membatasi kerusakan progresif pada folikel dan mencegah komplikasi menetap berupa alopesia sikatrikalis.



