Abstract / Summary
Nyeri sendi merupakan kondisi peradangan pada persendian yang sangat umum dialami oleh lansia dan dapat menurunkan kualitas hidup jika tidak ditangani secara komprehensif. Terapi non-farmakologi seperti Slow Deep Breathing (SDB) dan Paced Breathing (PB) menjadi alternatif aman untuk manajemen nyeri. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas kedua terapi tersebut terhadap penurunan skala nyeri sendi pada lansia. Desain penelitian ini adalah quasi-experimental dengan desain two group crossover. Responden penelitian terdiri dari 36 lansia dari total populasi 40 yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan perhitungan rumus slovin. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi penilaian nyeri Numeric Rating Scale (NRS) dan Standar Operasional Prosedur untuk kedua terapi. Data dianalisis menggunakan uji statistik non-parametrik Wilcoxon Signed Rank Test karena data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan penurunan skala nyeri yang signifikan pada kedua intervensi (p = 0,000). Nilai rata-rata nyeri pada terapi slow deep breathing menurun dari 5,94 menjadi 3,67 (Z = -5,243), sementara pada terapi paced breathing menurun dari 5,86 menjadi 4,44 (Z = -5,249). Meskipun keduanya efektif, terapi slow deep breathing menunjukkan penurunan rata-rata yang lebih besar dibandingkan paced breathing dengan selisih penurunan sebesar 0,85 poin. Kedua terapi terbukti efektif, namun Slow Deep Breathing lebih unggul dalam mereduksi intensitas nyeri sendi pada lansia. Keunggulan slow deep breathing terletak pada mekanisme kedalaman napas yang merangsang nervus vagus dan pelepasan endorfin secara lebih optimal dibandingkan paced breathing yang lebih mengandalkan pengaturan irama. Terapi ini direkomendasikan sebagai intervensi mandiri untuk meningkatkan kenyamanan fisik lansia.