Jurnal Akta Trimedika
Hubungan status anemia dengan kejadian kejang demam pada balita
By Egi Martvi Atmaja and Patwa Amani.
Abstract
Demam disertai kejang (kejang demam) merupakan gangguan kejang tersering pada anak usia 6–59 bulan dengan insidensi global sekitar 2–5% dan dapat mencapai 14% di beberapa wilayah Asia. Di Indonesia, angka kejadian kejang demam dilaporkan sebesar 2–5% berdasarkan data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Anemia diduga berperan sebagai salah satu faktor risiko karena dapat menyebabkan hipoksia jaringan dan menurunkan ambang kejang. Namun, hasil penelitian sebelumnya masih menunjukkan temuan yang bervariasi sehingga diperlukan penelitian lanjutan untuk memperjelas hubungan tersebut. Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain potong lintang yang dilakukan di RSUD Budhi Asih. Subjek penelitian adalah 261 balita usia 6–59 bulan yang dirawat inap dan memiliki data kadar hemoglobin. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik consecutive sampling. Analisis hubungan antara kadar hemoglobin dan kejadian kejang demam dilakukan menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Dari total 261 balita, sebanyak 40 anak (15,3%) mengalami demam disertai kejang (kejang demam). Sebanyak 102 anak (39,1%) mengalami anemia. Kejadian demam disertai kejang ditemukan pada 19 dari 102 balita anemia (18,6%) dan 21 dari 159 balita tidak anemia (13,2%). Hasil uji Chi-square menunjukkan nilai p = 0,236 (p > 0,05), sehingga tidak terdapat hubungan yang signifikan antara anemia dan kejadian demam. Anemia tidak berhubungan secara bermakna dengan kejadian demam disertai kejang pada balita di RSUD Budhi Asih




